skip to main |
skip to sidebar
Kekasihku duduk bersimpuh dihadapanku... Memakai kebaya dan berselendang sutera, ada tusuk emas yang menancap di gelung rambutnya... Dan dia pun membawa bunga se baki ditangannya
Lihatlah kawanku, betapa lembayung telah menggoreskan warnanya dikejauhan...
Tabahkanlah hatimu nak, kuatkan dirimu... Meski tak ada lagi alas kaki yang tersisa demi menemani langkahmu
Inilah malam dimana para pencinta merayakan pestanya...
Tak kan lama kupergi meninggalkanmu, namun yakinlah... Telah kutinggalkan segenap harapanku dalam penantianmu, demi mengobati rasa rindumu
Hari ini tepat delapan tahun sejak kehadirannya untuk yang pertama kali... Namun selama itu pula tidak pernah walau sekalipun kupersembahkan kesenangan dihadapannya, hanya sedikit saja keceriaan yg tergenggam ditangannya. ''Bangunlah nak, karena hari yang baru telah menantimu... Dan semoga keberkahan senantiasa bersamamu''
Tidurlah nak... tidurlah, karena malam telah menghamparkan selimutnya di peraduanmu
ketika kutatap matanya, kulihat terlintas jelas bayang diriku dipelupuknya... ketika kusingkap tirai dihatinya, kudapati cerminan diriku bersemayam ditiap relungnya... dan ketika kuselami jiwanya, kutemui pancaran diriku dikedalamannya... dia adalah aku, karena dia adalah gambaran diriku yang terlahir kembali
Aku dapat mengukur kedalaman cintanya dalam lubang yang terbentuk dari tetesan air matanya, dan diapun dapat merasakan kesungguhan cintaku dari tiap tetes keringat yang telah kupersembahkan untuknya
... karena hal itulah yang membuat kita sulit untuk dapat menerima akan kebenaran
Bersikaplah seperti karang, yang selalu bersabar menerima terpaan sang ombak yang senantiasa datang menerjang... berbuatlah seperti karang, yang selalu ikhlas menerima meskipun harus menjadi sandaran terakhir sang ombak... bersifatlah seperti karang, yang selalu maklum dengan keberadaan sang ombak. Namunpun demikian, tetaplah kedatangannya senantiasa selalu dirindukan, demi untuk meneguhkan pendiriannya
Bangunlah, dan cepat berdiri... wahai kawan-kawanku, karena dia telah datang dan mengetuk pintuku. Bangunlah... dan berilah jalan agar mudah baginya menghampiriku. Dan sungguh, bahwa kedatangannya adalah merupakan kebenaran janji yang telah ditetapkan atas diriku
Seandainya saja dapat kau membelah dadaku, niscaya akan kau temui bahwa aku hidup hanya dengan separuh hati... karena separuh yang lainnya telah lama pergi meninggalkanku seiring dengan kepergiannya