skip to main |
skip to sidebar
Aku tengah mencoba tuk kembali membuka lembar demi lembar kertas catatan perjalanan hidupku selama satu tahun ini... tapi ternyata sudah begitu lusuh, dan menempel satu dengan lainnya sehingga sulit bagiku untuk dapat membacanya, ditambah lagi dengan tulisannya yang telah mulai pudar dimakan waktu... jadi pelajaran apa yang dapat kupetik dari perjalanan hidupku selama satu tahun ini, jika aku tidak dapat membuka dan membacanya ?
Pernah seorang teman bertanya padaku, ''bagaimana kau dapat mengetahuinya jika dia mencintaimu, sedang dia tidak pernah menampakkan rasa cintanya padamu..?'' dan akupun menjawab, ''aku dapat mengetahuinya ketika dia memandangku dari ujung matanya, dan dia tersipu malu saat kutangkap lirikannya...''
Begitulah, terkadang cinta memperlakukan kita bagaikan seorang raja yang duduk bermahkota, namun disaat yang bersamaan pula terkadang cinta memperlakukan kita bagai seorang pesakitan yang duduk diatas kursi persidangan... dan bahkan, terkadang pula kita terkurung dalam tahanannya karena hati kita yang telah tertawan
Dibawah keremangan sentir yg menyala genit bergoyang, kekasihku pun mulai berdendang... diiringi suara rintik hujan, semakin nampak hasrat sang perawan
Saat lembayung telah mulai menguning, kududuk bersama kekasihku dipinggir malam... kubelai rambutnya dan kukecup keningnya seraya berbisik ditelinganya, "marilah kekasihku, kita berbicara lagi tentang cinta... hingga fajar menyingsing", dan diapun segera pula menyandarkan dirinya dibahuku, sambil menatapku dia mendengarkanku berbicara panjang tentang cinta, hingga dia terlelap dalam impiannya
ketika kau merasa bahwa pengetahuanmu tentang sesuatu telah mencapai puncaknya, sesungguhnya itu adalah cerminan dari ketidaktahuanmu sendiri akan sesuatu itu... karena kau tidak mampu melihat kabut tipis diatas puncakmu yang menghalangi puncak lainnya yang lebih tinggi
Seandainya kau tahu betapa berartinya kehadiran seorang ibu bagi kehidupan sang anak, niscaya pasti akan kau minum setiap tetes air yang jatuh walau dari cucian kakinya, niscaya pasti akan kau tampung setiap butir keringat yang keluar dari tubuhnya, niscaya pasti akan kau jaga setiap tetes darah yang mengalir dari nadinya...
Ibu... oh, terima kasih ibu... terima kasih atas setiap tetes peluh yang telah kau keluarkan untukku, terima kasih atas setiap tetes darah yang telah kau kucurkan untukku, terima kasih atas setiap erangan rasa sakit yang telah kau perdengarkan ditelingaku...
Usiaku kala itu hampir menginjak remaja ketika untuk yang pertama kalinya cinta menorehkan kisahnya dilembaran hidupku... dan kini setelah bertahun lamanya masih ada bekas guratannya dihatiku, dan aku pun tidak pernah berusaha untuk menghapusnya dari ingatanku
Andaipun malam ini ku tak datang menyambangimu, yakinlah bahwa ku tak pernah melupakanmu... namun jika suatu saat kita bertemu, maka percayalah bahwa cintamu menjadi takdirku
Aku tidak melihat perbedaan pada warna bayangan dirimu dan diriku, selain dari warna hitam dan gelap... tapi bukankah kau tengah mengenakan pakaian terbaikmu ?
Alangkah bodohnya seseorang yang percaya pada lambang cinta yang melingkar dijarinya, karena padanya tidaklah terdapat kekuatan arti cinta yang sesungguhnya, sedangkan cinta bersemayam didalam hati... Oh, alangkah nistanya dia yg telah melambangkan rasa cinta sebagai wakilnya
Jika malam ini kau bertemu dengannya, tolong sampaikan salamku untuknya... dan katakan padanya bahwa, "ada seorang teman yang telah lama menantikanmu, untuk dapat bersama menyemaikan benih2 cinta yang telah lama bersemi dihatinya, dan dia akan merasa senang andai kau pun mau menanamkannya kembali dijambangan hatimu''
Ketika kukatakan padanya bahwa dialah satu2nya milikku, diapun berlalu meninggalkanku... ketika kusadar, kutemui kebohongan dalam ucapanku...
Bukan lagi menetes, tapi mengalir darah yang telah kau kucurkan dari nadi kehidupanmu... seiring dengan mata pisau kematian yang mengiris dilehermu. Oh maafkanlah aku, karena merasa berbahagia disaat kau mulai meregang dan terkapar melepaskan nyawa... maka terimalah salam hormatku, atas kesediaanmu berkurban untukku... selamat jalan, dan berbahagialah atas takdir dirimu
Saat dia menjatuhkan senyumnya untukku, saat itu pula aku mulai mencintainya... yg padahal ketika itu aku tengah menantikan cinta yang lainnya
Dulu, pernah cinta menikamkan ujung mata pedangnya didadaku... hingga tembus kejantungku dan melukai perasaanku, dan... sampai kini pun masih ada bekas lukanya di ingatanku
Bukan intan permata, bukan pula emas mutiara yang dapat kukalungkan dilehermu... hanya sebongkah hati yang terikat tali jiwa yang dapat kukenakan dilenganmu
Tiada yang dapat kupersembahkan malam ini untukmu, selain dari sekeranjang cinta yang telah kuletakkan dipintumu... oh,maafkanlah aku, karena hanya itu yang dapat kuberikan padamu...
Sakitnya luka hati yang tertusuk duri cinta, ternyata jauh lebih perih dari sayatan sembilu walau seribu...
Hari ini matahari bersinar begitu teriknya, sehingga panasnya sampai kehatiku... sungguh tiada yang dapat mendinginkannya kembali, selain dari senyuman sang kekasih hati
Pernah satu kali cinta menancapkan taringnya dihatiku, hingga meninggalkan bekas luka yang membiru... namun pernah pula cinta menebarkan pesonanya dihatiku, hingga membuatku merajuk dan merayu...
Andainya saja dapat kutunggangi waktu, niscaya akan kuajak dia kembali ke masa lalu, dimana kebahagiaan masih menunggu dan keceriaan belum berlalu... aduhai sang waktu, betapa cepat langkahmu berlari meninggalkanku, atau memang langkahku yang terlalu lamban mengikutimu...
Aku menemukan cinta pada sekuntum bunga yg tersemat dirambutnya...
Jangan pernah walau sekalipun kau sambut cinta yang datang bermahkota, karena tiada ada sesuatupun dapat kau temui di dalamnya...tapi nantikanlah olehmu cinta yang datang berlinang air mata, karena pada setiap tetesnya akan kau temui arti kedalamannya cinta...
Ketika kukorbankan akan keringat dan darahku demi untuk memperjuangkan cintanya, diapun rela untuk meneteskan akan air matanya demi untuk menguatkan perjuanganku...
Apa yg dpt kukatakan pdmu ttg kekasihku, jika lidahku saja tlh menjadi kelu apabila kumulai menyebutkan namanya...dan bgmn mungkin dpt kulukiskan wajahnya, jika tintaku pun tlh pula mengering apabila kumulai membayangkan kecantikannya